Beranda Tentang Visi-Misi Pengurus Donasi

LKSA Panti Asuhan Putri Aisyiyah II

Paputri Aisyiyah II Utamakan Musyawarah Mufakat

Paputri Aisyiyah II Utamakan Musyawarah Mufakat

Musyawarah Mufakat di Paputri Aisyiyah II
Musyawarah Mufakat di Paputri Aisyiyah II

Surabaya - Mengutamakan Musyawarah dalam bermufakat dan amanah dalam bekerja, ikhlas dalam beribadah untuk ridho Ilahi adalah motto panti asuhan putri Aisyiyah II Kebonsari Surabaya, Jumat 26/6/2020.

Prinsip musyawarah mufakat merupakan tradisi leluhur yang perlu terus dipegang demi menjaga keutuhan bangsa ini. Sebab, kita tahu, bangsa ini majemuk, di mana masyarakatnya terdiri dari pelbagai macam suku, agama, ras, dan sebagainya, di mana masing-masing memiliki identitas, ciri, karakter, dengan keinginan dan kepentingan berbeda-beda.

Tak jarang, perbedaan-perbedaan tersebut menciptakan gesekan dan konflik. Di sinilah pentingnya prinsip musyawarah mufakat terlihat. Yakni sebagai jalan menyelesaikan pertentangan tersebut secara damai.

Melihat pentingnya prinsip musyawarah mufakat tersebut, Paputri Aisyiyah II semakin sadar untuk terus merawat nilai-nilainya dalam kehidupan, terutama ketika terjadi suatu perselisihan.

Musyawarah mufakat merupakan salah satu poin penting yang terkandung dalam dasar negara kita, yakni dalam sila keempat Pancasila. Itu artinya, prinsip musyawarah mufakat mesti menjadi nilai yang tertanam dalam diri kita sebagai bangsa Indonesia.

Kita bisa mengutamakan prinsip musyawarah dimulai dari lingkungan masing-masing. Sebagai orang tua, misalnya, kita bisa menanamkannya pada anak-anak dengan selalu membiasakan untuk berdiskusi dan berdialog setiap kali hendak memutuskan sesuatu.

Ketika orang tua mengajak anak berdialog, anak akan merasa dihargai dan didengarkan kemauan dan pendapatnya. Jadi, anak belajar tentang bagaimana menyikapi perbedaan secara bijak sejak dini lewat musyawarah. Begitu juga ketika terjadi pertengkaran atau perselisihan antar individu atau antar kelompok warga yang terjadi di lingkungan kita, maka prinsip musyawarah mesti diutamakan.

Sikap egois, angkuh, keras kepala, pemarah, bahkan anarkis adalah sikap-sikap yang bertolak belakang dengan prinsip musyawarah mufakat.

Jika terus berkembang di masyarakat, sikap-sikap negatif tersebut bisa meretakkan bangunan keharmonisan bangsa. Sebaliknya, sikap-sikap seperti ramah, toleran, dan menghargai hak dan perbedaan, yang merupakan bagian dari spirit musyawarah mufakat, merupakan tiang-tiang penyangga yang akan mengokohkan bangunan bangsa Indonesia selama-lamanya.

(Bunda Tri)

Bagikan artikel ini: